Senin, 19 Juni 2017

Aku & Eva

Namaku Ares, aku hanya seorang mahasiswa biasa yang kebetulan saja merupakan personel dari sebuah band local yang sedang naik daun. Tapi aku bukan sosok idola di band ini. Aku hanya seorang pemain bass yang memang jarang sekali mendapat perhatian dari penonton atau penggemar band ku ini.

Kami mendapat order manggung di Oranje Kafe pada malam valentine. Wah, tentu saja kami senang akan hal ini. Berminggu-minggu itu kami mulai berlatih rutin agar penggemar kami tidak kecewa. Aku tahu live performance kami akan sangat dinanti-nantikan. Sayangnya, pada latihan kesekian, maaf aku tidak ingat tepatnya. Tiba-tiba aku mengeluh pusing dan rasa sakit yang hebat di kepalaku. Kata Eva, (pacarku yang manis dan memang selalu mendampingiku latihan) aku roboh dan tak sadarkan diri waktu itu. Rio, vokalis bandku kebingungan dan langsung menelepon ambulance, lalu aku dibawa kerumah sakit terdekat.

Sumpah, aku tidak ingat apa-apa lagi tentang semua itu. Yang aku tahu aku kehilangan posisi di band ku. Padahal acara valentine itu tinggal seminggu lagi. Aku sekarang hanya makhluk lemah yang duduk di atas kursi roda, entah kenapa kakiku tak dapat digerakkan lagi. Eva lah yang dengan setia mengantarkan aku kemana-mana. Suatu hal yang berubah, eva sekarang tambah cerewet. Terutama dalam hal kedisiplinanku makan dan minum obat. Aku sering dipaksa minum obat secara rutin. Padahal aku benci obat. Pernah juga aku hanya berpura-pura saja minum obat yang diberikannya. Obat itu hanya aku tahan di bawah lidah. Tapi aku buang lagi ke asbak. Eva tahu hal itu, dia terus menangis. Tentu saja aku keheranan, karena baru kali ini aku melihat dia menangis seperti ini. Asal kalian tahu, Eva itu biasanya rame, heboh, dan selalu tertawa. Aku saying dia, karena dia lucu dan bisa membuat aku tertawa setiap hari. Dia manja tapi nggak kekanak-kanakan. Tapi kenapa kali ini dia menangis..? Ah, aku tidak tahu. Toh kemudian aku minta maaf dan lantas ku minum obat itu benar-benar.

Teman-teman di band juga semakin menunjukkan perhatiannya yang kadang aku rasa terlalu berlebihan padaku. Yang paling mengherankan, aku bahkan mereka ajak latihan lagi, kali ini mereka suruh aku nyanyi, berduet dengan Rio. Kami menyanyikan lagu Crawling In The Dark – Hoobastank. Padahal dulu mereka sama sekali nggak mau kalau nyayiin lagu ini. Karena band kami beraliran pop manis. Bukan Rock seperti Hoobastank. Ajakanku untuk sekali-kali menyanyikan lagu ini juga mereka tolak dengan alas an itu. Tapi kali ini kenapa mereka tiba-tiba mengajakku memainkan lagu ini..? Hmm, ada apa ya dengan mereka? Ah peduli amat…

Masih di atas kursi roda, aku dan Rio berduet menyanyikan lagu itu di studio. Ha..ha.., ternyata kualitas vocal ku nggak kalah sama Rio. Memang karakternya beda banget. Tapi menurutku, kami berdua bisa jadi duet yang baik sebenarnya. Aku lalu tawarkan padanya, bagaimana kalau kelak aku sudah normal lagi, kita nyanyikan lagu ini bareng-bareng di panggung. Rio hanya tersenyum dan mengangguk. Tapi hei, kenapa dia kemudian menangis juga? Dia lalu memelukku erat sekali. Dan berjanji kalau dia mau memenuhi permintaanku itu. Aku semakin terheran-heran. Eva juga ikut-ikutan menangis. Hei-hei ada apa ini? Kenapa semuanya tiba-tiba begini begini terhadapku? Aku akan baik-baik saja kawan, aku akan baik-baik saja Va. Dokter bilang aku akan segera sembuh kok. Sikap kalian kok seperti menghadapi orang yang mau mati begitu sih?

Dan akhirnya malam valentine itu dating juga. Band ku benar-benar manggung di Oranje, dengan seorang pemain bass baru yang direkrut manajemen band untuk menggantikan aku. Kafe yang sebenarnya tidak terlalu besar itu penuh sesak. Aku juga datang, dengan masih diatas kursi roda dan Eva yang dengan setianya mengantarku. Aku dan Eva duduk dibelakang panggung.

Band ku memulai aksi panggungnya dengan sangat manis. Semuanya seperti tersihir dengan lagu-lagu romantis yang teman-teman ku bawakan. Aku dan Eva juga sesekali bersenandung menirukan lagu-lagu itu. Eva tampak senang sekali malam itu. Hmm, akhirnya kembali juga senyum ceria dan khasnya yang dulu membuat aku jatuh cinta…, aku saying kamu Va.

Usai lagu kesembilan, tiba-tiba ku dengar. Hei intro lagu ini, ini Crawling In The Dark, lagu favoritku. Ku dengar juga Rio mempersilahkanku ke panggung buat berduet dengannya menyanyikan lagu itu. Tepuk tangan penonton membahana, dan dengan Eva yang mendorong kursi rodaku, aku menuju ke panggung. Ha.., aku merasa luar biasa sekali mala mini, aku benar-benar berduet dengan Rio, bermain lagi dengan bandku, menyanyikan lagu yang selama ini ingin aku nyanyikan diatas panggung. Dan mala mini dengan masih diatas kursi roda, aku menyanyikannya bersama teman-teman bandku.

Usai lagu itu, tepuk tangan penonton semakin menggemuruh. Bahkan ku lihat beberapa dari mereka menangis. Mungkin terhanyut dengan penampilan fantastisku dan band ku mala mini. Lho? Tapi ini kan bukan lagu romantis yang biasanya gampang bikin orang terhanyut lalu menangis? Atau mungkin hanya karena terharu saja ya, melihat aku menyanyi diatas kursi roda? Dan setelah berterima kasih pada penonton dan teman-temanku, aku meninggalkan panggung dan masih diikuti tepuk tangan penonton.

Band ku akhirnya mengakhiri live performancenya malam itu dengan Ordinary World milik Duran-Duran. Karakter vokal khas Rio yang sering diledek Eva dengan serak-serak birahi itu berhasil kembali memunculkan hawa romantis di kafe yang sebelumnya dirusak oleh derungan Crawling In The Dark itu. Hmmm, rio memang seorang vokalis hebat, tak heran jika dia jadi personel yang paling diidolakan oleh penggemar bandku.

Band ku kemudian berhigh five dan meninggalkan panggung setelah sebelumnya berterima kasih kepada penonton atas kedatangannya malam itu. Mereka semua kemudian berhambur menghampiri dan memelukku erat sekali. Aku terharu, terima kasih kawan-kawan aku senang sekali malam ini. Kalian semua hebat, aku bangga meskipun sekarang aku bukan lagi bagian dari band ini. Sekali lagi terima kasih juga kalian sudah memenuhi impianku mala mini, menyanyikan Crawling In The Dark di atas panggung. Kawan-kawanku yang baik, aku saying kalian semua…
Aku lalu pulang bersama Eva yang mengantarku dengan mobilnya. Di perjalanan, aku dan Eva tak henti-hentinya seperti orang gila berteriak-teriak mengikuti alunan Crawling In The Dark yang diputar di tape mobil. Satu hal yang baru aku tahu, Eva juga hafal dengan lirik lagu ini. Mulut mungilnya tak henti-hentinya membuka, menutup dan mendengarkan suara yang melengking dan sumbang, tetapi tetap saja lucu kedengarannya. Aku tersenyum, dan tanpa kusadari setitik air bening jatuh dari air mataku. Ya, aku menangis karena bahagia, entah kenapa malam ini aku merasa bahagia sekali punya pacar seperti Eva, orang yang selalu menemani aku dalam tangis atau tawa. Bahkan dalam keadaanku yang sudah seperti ini sekalipun.

Eva mengantarku sampai masuk rumah. Bahkan disertai ciuman manis di keningku. Dan (ini yang nggak aku suka), nasihatnya yang setengah memaksa, agar aku tidak lupa minum obat lagi. “Iya deh Eva ku yang cerewet, aku akan minum obatku kok. Supaya aku segera sembuh, dan bisa main-main dan menghabiskan waktu lagi sama kamu tanpa direpotkan dengan kursi roda dan penyakit sialanku ini”.

Eva akhirnya pulang dengan mobilnya. Aku masuk kamar, meminum obat, dan beristirahat, tapi kenapa ya mataku tak bisa dipejamkan? Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Aku tak bisa tidur, ada perasaan tidak enak yang mengatakan aku harus nelpon Eva mala mini. Kuhubungi ponselnya tidak diangkat. Hei-hei ada apa lagi ini? Tak biasanya Eva seperti ini. Dia selalu menjawab telponku kok. Kucoba sekali lagi meneleponnya, tetap tidak ada jawaban. Perasaanku semakin tidak karuan. Firasatku mengatakan sesuatu yang buruk telah terjadi pada Eva. Aku kemudian mencoba berdiri dari tempat tidur, meraih kursi rodaku. Tapi terasa jauh sekali. Aku merasakan mataku berkunang-kunang. Kepalaku berat, pusing dan sakit kepala hebat itu kembali menyerang. Aku kemudian merasakan tubuhku  semakin lemah, lemah dan kemudian gelap.

**********

Aku tersadar disebuah tempat yang rasanya mirip tempat tidur. Dan aroma obat yang khas. Sepertinya ini kamar rumah sakit, tapi kenapa pandanganku masih gelap? Aku tidak bisa melihat apapun disini. Kepalaku juga masih terasa berat, tapi secara samar-samar kudengar suara yang kukenal baik. Sepertinya dia Mamiku, Rio dan teman-teman bandku yang lain disini. Lho, tapi kenapa tak kudengar suaranya Eva? Biasanya selalu kudengar tawanya yang renyah dan celetukannya yang selalu membuatku tertawa. Dia tidak ada disini, dimana dia? Dengan suara menggumam dan tidak jelas kutanyakan keberadaan Eva kepada Mamiku. Tapi beliau tidak menjawab, hanya kurasakan belaian lembut tangannya, kudengar beliau hanya menangis. Aku semakin bingung.

**********

Pandangan mataku masih terasa gelap, dan aku masih duduk diatas kursi roda. Tapi hari ini Rio mengantarku ke suatu tempat yang katanya adalah makamnya Eva. Tempat peristirahatan terakhir  dari orang yang selama setahun ini menjadi teman hati dan teman jiwaku ini. Orang yang paling aku sayangi. Dan dari cerita Rio pula, akhirnya aku tahu kalau kecelakaan tragis telah memanggil Evaku yang manis untuk selama-lamanya malam itu, malam setelah bandku manggung di Oranje, setelah Eva mengantarku pulang kerumah.

Herannya, aku tidak menangis sedikitpun, meski kuakui hatiku benar-benar hancur dan kesedihan yang teramat sangat membuat dadaku makin sesak. Aku yakin, tak lama lagi aku dan Eva akan bertemu lagi dikehidupan yang lain, meski bukan di dunia ini tentu saja. Tunggu saja aku Va, aku takkan membiarkan kamu kesepian disana, tunggu aku ya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar