Namaku Ares, aku hanya seorang mahasiswa biasa yang
kebetulan saja merupakan personel dari sebuah band local yang sedang naik daun.
Tapi aku bukan sosok idola di band ini. Aku hanya seorang pemain bass yang
memang jarang sekali mendapat perhatian dari penonton atau penggemar band ku
ini.
Kami mendapat order manggung di Oranje Kafe pada malam
valentine. Wah, tentu saja kami senang akan hal ini. Berminggu-minggu itu kami
mulai berlatih rutin agar penggemar kami tidak kecewa. Aku tahu live
performance kami akan sangat dinanti-nantikan. Sayangnya, pada latihan
kesekian, maaf aku tidak ingat tepatnya. Tiba-tiba aku mengeluh pusing dan rasa
sakit yang hebat di kepalaku. Kata Eva, (pacarku yang manis dan memang selalu
mendampingiku latihan) aku roboh dan tak sadarkan diri waktu itu. Rio, vokalis
bandku kebingungan dan langsung menelepon ambulance, lalu aku dibawa kerumah
sakit terdekat.
Sumpah, aku tidak ingat apa-apa lagi tentang semua
itu. Yang aku tahu aku kehilangan posisi di band ku. Padahal acara valentine
itu tinggal seminggu lagi. Aku sekarang hanya makhluk lemah yang duduk di atas
kursi roda, entah kenapa kakiku tak dapat digerakkan lagi. Eva lah yang dengan
setia mengantarkan aku kemana-mana. Suatu hal yang berubah, eva sekarang tambah
cerewet. Terutama dalam hal kedisiplinanku makan dan minum obat. Aku sering
dipaksa minum obat secara rutin. Padahal aku benci obat. Pernah juga aku hanya
berpura-pura saja minum obat yang diberikannya. Obat itu hanya aku tahan di
bawah lidah. Tapi aku buang lagi ke asbak. Eva tahu hal itu, dia terus
menangis. Tentu saja aku keheranan, karena baru kali ini aku melihat dia
menangis seperti ini. Asal kalian tahu, Eva itu biasanya rame, heboh, dan
selalu tertawa. Aku saying dia, karena dia lucu dan bisa membuat aku tertawa setiap
hari. Dia manja tapi nggak kekanak-kanakan. Tapi kenapa kali ini dia
menangis..? Ah, aku tidak tahu. Toh kemudian aku minta maaf dan lantas ku minum
obat itu benar-benar.
Teman-teman di band juga semakin menunjukkan
perhatiannya yang kadang aku rasa terlalu berlebihan padaku. Yang paling
mengherankan, aku bahkan mereka ajak latihan lagi, kali ini mereka suruh aku
nyanyi, berduet dengan Rio. Kami menyanyikan lagu Crawling In The Dark –
Hoobastank. Padahal dulu mereka sama sekali nggak mau kalau nyayiin lagu ini.
Karena band kami beraliran pop manis. Bukan Rock seperti Hoobastank. Ajakanku
untuk sekali-kali menyanyikan lagu ini juga mereka tolak dengan alas an itu.
Tapi kali ini kenapa mereka tiba-tiba mengajakku memainkan lagu ini..? Hmm, ada
apa ya dengan mereka? Ah peduli amat…
Masih di atas kursi roda, aku dan Rio berduet
menyanyikan lagu itu di studio. Ha..ha.., ternyata kualitas vocal ku nggak
kalah sama Rio. Memang karakternya beda banget. Tapi menurutku, kami berdua
bisa jadi duet yang baik sebenarnya. Aku lalu tawarkan padanya, bagaimana kalau
kelak aku sudah normal lagi, kita nyanyikan lagu ini bareng-bareng di panggung.
Rio hanya tersenyum dan mengangguk. Tapi hei, kenapa dia kemudian menangis
juga? Dia lalu memelukku erat sekali. Dan berjanji kalau dia mau memenuhi
permintaanku itu. Aku semakin terheran-heran. Eva juga ikut-ikutan menangis.
Hei-hei ada apa ini? Kenapa semuanya tiba-tiba begini begini terhadapku? Aku
akan baik-baik saja kawan, aku akan baik-baik saja Va. Dokter bilang aku akan segera
sembuh kok. Sikap kalian kok seperti menghadapi orang yang mau mati begitu sih?
Dan akhirnya malam valentine itu dating juga. Band ku
benar-benar manggung di Oranje, dengan seorang pemain bass baru yang direkrut
manajemen band untuk menggantikan aku. Kafe yang sebenarnya tidak terlalu besar
itu penuh sesak. Aku juga datang, dengan masih diatas kursi roda dan Eva yang
dengan setianya mengantarku. Aku dan Eva duduk dibelakang panggung.
Band ku memulai aksi panggungnya dengan sangat manis.
Semuanya seperti tersihir dengan lagu-lagu romantis yang teman-teman ku
bawakan. Aku dan Eva juga sesekali bersenandung menirukan lagu-lagu itu. Eva
tampak senang sekali malam itu. Hmm, akhirnya kembali juga senyum ceria dan
khasnya yang dulu membuat aku jatuh cinta…, aku saying kamu Va.
Usai lagu kesembilan, tiba-tiba ku dengar. Hei intro
lagu ini, ini Crawling In The Dark, lagu favoritku. Ku dengar juga Rio
mempersilahkanku ke panggung buat berduet dengannya menyanyikan lagu itu. Tepuk
tangan penonton membahana, dan dengan Eva yang mendorong kursi rodaku, aku
menuju ke panggung. Ha.., aku merasa luar biasa sekali mala mini, aku
benar-benar berduet dengan Rio, bermain lagi dengan bandku, menyanyikan lagu
yang selama ini ingin aku nyanyikan diatas panggung. Dan mala mini dengan masih
diatas kursi roda, aku menyanyikannya bersama teman-teman bandku.
Usai lagu itu, tepuk tangan penonton semakin
menggemuruh. Bahkan ku lihat beberapa dari mereka menangis. Mungkin terhanyut
dengan penampilan fantastisku dan band ku mala mini. Lho? Tapi ini kan bukan
lagu romantis yang biasanya gampang bikin orang terhanyut lalu menangis? Atau
mungkin hanya karena terharu saja ya, melihat aku menyanyi diatas kursi roda?
Dan setelah berterima kasih pada penonton dan teman-temanku, aku meninggalkan
panggung dan masih diikuti tepuk tangan penonton.
Band ku akhirnya mengakhiri live performancenya malam
itu dengan Ordinary World milik Duran-Duran. Karakter vokal khas Rio yang
sering diledek Eva dengan serak-serak birahi itu berhasil kembali memunculkan
hawa romantis di kafe yang sebelumnya dirusak oleh derungan Crawling In The
Dark itu. Hmmm, rio memang seorang vokalis hebat, tak heran jika dia jadi
personel yang paling diidolakan oleh penggemar bandku.
Band ku kemudian berhigh five dan meninggalkan
panggung setelah sebelumnya berterima kasih kepada penonton atas kedatangannya
malam itu. Mereka semua kemudian berhambur menghampiri dan memelukku erat
sekali. Aku terharu, terima kasih kawan-kawan aku senang sekali malam ini.
Kalian semua hebat, aku bangga meskipun sekarang aku bukan lagi bagian dari
band ini. Sekali lagi terima kasih juga kalian sudah memenuhi impianku mala
mini, menyanyikan Crawling In The Dark di atas panggung. Kawan-kawanku yang
baik, aku saying kalian semua…
Aku lalu pulang bersama Eva yang mengantarku dengan
mobilnya. Di perjalanan, aku dan Eva tak henti-hentinya seperti orang gila
berteriak-teriak mengikuti alunan Crawling In The Dark yang diputar di tape
mobil. Satu hal yang baru aku tahu, Eva juga hafal dengan lirik lagu ini. Mulut
mungilnya tak henti-hentinya membuka, menutup dan mendengarkan suara yang
melengking dan sumbang, tetapi tetap saja lucu kedengarannya. Aku tersenyum,
dan tanpa kusadari setitik air bening jatuh dari air mataku. Ya, aku menangis
karena bahagia, entah kenapa malam ini aku merasa bahagia sekali punya pacar
seperti Eva, orang yang selalu menemani aku dalam tangis atau tawa. Bahkan
dalam keadaanku yang sudah seperti ini sekalipun.
Eva mengantarku sampai masuk rumah. Bahkan disertai
ciuman manis di keningku. Dan (ini yang nggak aku suka), nasihatnya yang
setengah memaksa, agar aku tidak lupa minum obat lagi. “Iya deh Eva ku yang
cerewet, aku akan minum obatku kok. Supaya aku segera sembuh, dan bisa
main-main dan menghabiskan waktu lagi sama kamu tanpa direpotkan dengan kursi
roda dan penyakit sialanku ini”.
Eva akhirnya pulang dengan mobilnya. Aku masuk kamar,
meminum obat, dan beristirahat, tapi kenapa ya mataku tak bisa dipejamkan?
Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Aku tak bisa tidur, ada
perasaan tidak enak yang mengatakan aku harus nelpon Eva mala mini. Kuhubungi
ponselnya tidak diangkat. Hei-hei ada apa lagi ini? Tak biasanya Eva seperti
ini. Dia selalu menjawab telponku kok. Kucoba sekali lagi meneleponnya, tetap
tidak ada jawaban. Perasaanku semakin tidak karuan. Firasatku mengatakan
sesuatu yang buruk telah terjadi pada Eva. Aku kemudian mencoba berdiri dari
tempat tidur, meraih kursi rodaku. Tapi terasa jauh sekali. Aku merasakan
mataku berkunang-kunang. Kepalaku berat, pusing dan sakit kepala hebat itu
kembali menyerang. Aku kemudian merasakan tubuhku semakin lemah,
lemah dan kemudian gelap.
**********
Aku tersadar disebuah tempat yang rasanya mirip tempat
tidur. Dan aroma obat yang khas. Sepertinya ini kamar rumah sakit, tapi kenapa
pandanganku masih gelap? Aku tidak bisa melihat apapun disini. Kepalaku juga
masih terasa berat, tapi secara samar-samar kudengar suara yang kukenal baik.
Sepertinya dia Mamiku, Rio dan teman-teman bandku yang lain disini. Lho, tapi
kenapa tak kudengar suaranya Eva? Biasanya selalu kudengar tawanya yang renyah
dan celetukannya yang selalu membuatku tertawa. Dia tidak ada disini, dimana
dia? Dengan suara menggumam dan tidak jelas kutanyakan keberadaan Eva kepada
Mamiku. Tapi beliau tidak menjawab, hanya kurasakan belaian lembut tangannya,
kudengar beliau hanya menangis. Aku semakin bingung.
**********
Pandangan mataku masih terasa gelap, dan aku masih
duduk diatas kursi roda. Tapi hari ini Rio mengantarku ke suatu tempat yang
katanya adalah makamnya Eva. Tempat peristirahatan terakhir dari
orang yang selama setahun ini menjadi teman hati dan teman jiwaku ini. Orang
yang paling aku sayangi. Dan dari cerita Rio pula, akhirnya aku tahu kalau
kecelakaan tragis telah memanggil Evaku yang manis untuk selama-lamanya malam
itu, malam setelah bandku manggung di Oranje, setelah Eva mengantarku pulang
kerumah.
Herannya, aku tidak menangis sedikitpun, meski kuakui
hatiku benar-benar hancur dan kesedihan yang teramat sangat membuat dadaku
makin sesak. Aku yakin, tak lama lagi aku dan Eva akan bertemu lagi dikehidupan
yang lain, meski bukan di dunia ini tentu saja. Tunggu saja aku Va, aku takkan
membiarkan kamu kesepian disana, tunggu aku ya!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar