Senin, 19 Juni 2017

Aninda

Kriiiing….kriing, suara bel tanda istirahat mengagetkanku, bunyinya sangat keras sekali karena berada tepat di atas kepalaku, tak lama kemudian Ibu Aksan, guru kimia menyuruhku untuk duduk, bersamaan dengan itu pula semua penghuni kelas III IPA I berhamburan keluar seperti burung lepas dari sangkarnya. Aku baru saja diskors berdiri di depan kelas karena nggak ngerjain tugas dari bu Aksan yang terkenal killer di sekolah ini.



Aku sering seperti ini, hal seperti ini sudah tiga kali dalam minggu ini, entah tidak tahu kenapa aku sekarang bisa berubah seperti ini, aku seperti tidak punya daya untuk menjalani hidup ini, banyak lomba yang aku ikuti jadi wakil sekolah selalu menang, kegiatan OSIS pun aku sering ikut, semua itu berubah setelah Ayahku memutuskan berpisah dengan Ibuku dua minggu yang lalu, aku masih beruntung karena aku tidak terjerumus kedalam lubang hitam narkoba, keputusan ayahku membuat aku seperti tak ingin hidup lagi, aku merasa tidak ada lagi yang memperhatikanku, tidak ada orang lagi yang peduli denganku, maklum karena aku anak tunggal, kasih saying orang tuaku sangat berpengaruh terhadap pertumbuhanku. Aku sudah tak kuasa melanjutkan perjalanan ini. Ah..buat apa lagi aku pikirkan semuanya itu sudah terjadi, lebih baik aku masuki ruang mimpiku yang terasa indah indah ini, aku ingin tidur saja istirahat ini.


**********


Puaak…kaget rasanya, seperti sesuatu telah menghantam kepalaku, agak sakit, aku hanya mengusap-usap kepalaku, mungkin itu pak Hasan yang barusan melempari kepalaku dengan penghapus kapur tulis, ternyata benar pak Hasan, yang sedang memarahiku untuk segera bangun, suara itu sama sekali tidak aku dengarkan, aku hanya melihat seorang gadis di sampingnya, gadis itu cantik, wajahnya oval putih, rambutnya yang panjang sepunggung. Aku belum pernah melihat dia sebelumnya. Ternyata dia murid baru yang bernama Aninda. Dia anak pengusaha sukses di Surabaya dan pindah karena ayahnya mengurusi bisnisnya di kota ini, aku tahu setelah pak Ahsan mengenalkannya di depan kelas, dan rencananya dia akan duduk disebelahku karena kebetulan aku duduk sendirian.


Hari selanjutnya seperti biasa aku harus jalani hidup ini dengan sangat berat, sebenarnya aku nggak pengen berangkat, tapi lebih baik disini daripada melihat mama masih sedih dengan perpisahan itu. Tapi teman yang banyak disini seperti hilang dalam sekejap, tidak ada satupun teman yang berani bicara denganku, karena aku sering marahin mereka, walaupun mereka berniat baik membantuku. Aku tidak tahu mengapa aku sering naik darah, apalagi jika menyangkut orang tuaku.


Hari inipun mungkin aku harus berdiri lagi di depan kelas, atau mengerjakan tugas diluar, karena aku tidak membikin tugas lagi, aku menuju bangkuku, kulihat anak baru itu sedang asyik ngobrol dengan Linda teman belakang bangkuku, kulihat mereka sudah mulai akrab, aku tidak menghiraukan apa yang mereka bicarakan, aku langsung duduk tanpa bicara sepatah katapun.


Baru saja pelajaran kimia di mulai, semua tugas dikumpulkan tapi hanya aku yang tidak mengumpulkan kulihat Aninda juga mengumpulkan, bu Aksan memeriksa semua tugas, dan akupun sudah siap-siap jika disuruh berdiri lagi seperti kemarin, kulihat beberapa kali dia melihatku, dan kemudian kembali mengoreksi, kemudian terdengar suara ibu Aksan kepada kami.


“Anak-anak setelah Ibu periksa, dari sekian siswa yang mengerjakan tugas ini, hanya Ridwan dan Aninda yang benar 100%”. Suara sorak riuh dan tepuk tangan terdengar seketika itu. Aku agak kaget mendengar bahwa soal yang aku kerjakan benar semuanya, padahal aku sama sekali tidak pernah mengerjakan soal itu, bahkan seperti apa soal yang diberikan pun aku tidak pernah tahu. Kemudian Aninda menatapku dan berbicara padaku sambil menepuk pundakku.


“Maaf aku tadi yang bikin soal itu dan mengumpulkannya, tanpa memberitahumu terlebih dahulu, aku sama sekali tidak ingin merendahkanmu, aku tahu banyak tentang kamu, kau orang baik dan semu telah berlalu, kaupun tidak ingin keadaan seperti ini, bangkitlah! Gapai semua cita-citamu, aku tahu kau bisa.” Senyum manis menghiasi wajahnya.


Kata-kata itu seperti sebuah oasis yang sejuk, sejuk sekali, sejak saat itu aku merasa bahwa aku harus berubah, aku harus bisa lebih mandiri dan mampu menghadapi cobaan, karena cobaan adalah konsekwensi dalam hidup, semangatku seakan pulih, aku tahu aku bisa, dan aku ingin kembali seperti dulu lagi, Ridwan yang tak mudah menyerah, Ridwan yang penuh dengan harapan. Setelah saat itu hari-hari banyak yang aku habiskan bersamanya, dari ngerjain PR di bukit, main ke perpustakaan wilayah naik sepeda berboncengan, sampai keliling kota naik pic-up, aku merasa bahagia walaupun single parent. Gadis yang cantik dan menyenangkan, dia juga sangat pandai dalam bidang bahasa.


Dua hari sebelum ujian akhir dimulai, tepatnya hari sabtu malam, Aninda memintaku untuk datang kerumahnya, sesampai disana kulihat dia sudah siap dengan gitar disampingnya. Dia terlihat feminism sekali, dia duduk di teras depan bersama Ibunya, rumahnya memang masih asri namun sepi, maklum dia juga anak tunggal, ayahnya sibuk, hanya dia, Ibunya dan satu orang sopir yang tinggal dirumah sebesar itu.


“Hai..selamat datang,” sapa dia sambil mengambil softdrink di meja.

“Ridwan silahkan duduk, Ibu masuk dulu,”  sapa Ibunya ramah, sambil pergi meninggalkan kami, rupanya Ibunya sudah kenal denganku.

“I..ia Bu terima kasih,” balasku agak gugup.

“Kamu bisa main gitar?” dia bertanya, sambil menyodorkan gitar kepadaku.

“Maa..maaf nggak bisa kok,” sambil geleng-geleng balasku.

“Oh…” balas dia sambil manggut-manggut. Diambilnya gitar kemudian jari-jarinya yang lentik mulai memetik senar gitar yang sepertinya sudah terbiasa memainkannya, dari bawah keatas, dari atas kebawah.

“Ting…tung…ting…tung….indah, terasa indah…bila kita terbuai…” suara merdu mulai mengalun dari bibirnya.

“Wau hebat sekali,” kagumku. Lagu itu memang sudah aku hafal, kemudian aku ikut bernyanyi walaupun suaraku agak terdengar fals, kemudian suara kami mengalun bersama redupnya malam yang terbawa angin. Indah….


**********


Ujian telah usai, kamu semua lulus, tapi jumlah rata-rata belum diumumkan. Namun untuk lulusan terbaik akhirnya aku peroleh, kemudian baru dia, rasa bahagiapun seakan semakin membara. Aninda menghampiriku dan mengucapkan selamat.


“Selamat yaa… kamu memang hebat,” sambil meninju dadaku.

“Kamu juga hebat,” kataku, dia tersenyum. Sangat indah seperti saat pertama kali dulu.



Seeeet…seet….suara cat mulai terdengar, kami semua berlari-lari bahagia, ada yang tertawa lepas, ada yang tidak percaya kala dia lulus, ada yang sedih karena harus berpisah dengan teman-teman, semua berbaur menjadi satu, seeet…cat itu mewarnai seragamku yang putih, warnanya sangat cerah secerah hatiku saat ini, mendadak banyak teman yang seperti menjadi popular. Tanda tangan, pesan dan namanya tertulis dibajuku yang mulai habis warna putihnya. Kami semua tertawa riang, ada beberapa yang berlarian, kulihat Aninda menghampiriku, giginya yang putih rapi itu, tersenyum lebar manis sekali. Sesekali berkata aku lulus…, kedua tangannya menggenggam tangan kananku, kemudian dia menarikku, mengajakku ke belakang sekolah yang saat itu agak sepi.


Sesampainya di belakang sekolah dia menatapku, seakan kesunyian menyelimuti dunia dengan sekejap, aku diam diapun diam, kami hanya saling menatap, kemudian kata-kata keluar dari bibirnya.


“Rid kita sudah lama bersama, aku ingin menuliskan sesuatu di bajumu belakang. Agar kau selalu ingat aku nanti walaupun kita jauh.” dia mulai menuliskan kata di baju belakangku, aku tidak tahu apa yang dia maksudkan, tapi dia menuliskannya begitu lama, kemudian dia berkata.

“Aku juga ingin kamu menuliskan sesuatu dibajuku, tentang semua yang tak terucap olehmu hari ini”. Karena aku merasa berhutang budi dengannya, lalu dia berkata.

“Kita sama-sama baca tulisan ini di rumah kita masing-masing dan harus kita sendiri yang membacanya”, ujarnya dengan kepala tertunduk, kemudian dia pergi meninggalkanku, aku masih bingung dengan semua ini. Aku hanya bisa menatap dirinya menghilang.


Aku langsung pulang dengan berjuta rasa penasaran ini. Sesampainya dirumah aku lepas bajuku yang sudah tak layak pakai ini, dan kubaca tulisan darinya, walaupun kurang jelas tapi masih bisa aku baca.


“Maaf Rid, mungkin saat kamu baca tulisan ini, aku sudah ada di bandara, ayahku menginginkan aku kuliah di Singapura, aku masih ingin bersamamu, I will miss u”, membaca tulisan itu jiwaku seakan berontak dan seperti tak ingin membiarkan dia pergi meninggalkanku, aku tidak tahu perasaan apa ini, perasaan ingin bersama, perasaan yang dapat menguasai seluruh akal pikiranku.


Kupacu motorku sangat kencang menuju bandara, aku tak peduli akan keselamatanku sendiri, sambil beberapa kali bertanya, kepada diriku sendiri, perasaan apa ini…? Perasaan apa ini? Apakah aku cinta padanya? Apakah aku cinta kepadanya? Ya aku cinta kepadanya.


**********


Di bandara aku mencarinya, berlari dan beberapa kali aku teriak memanggil namany, aku tidak peduli orang-orang yang melihatku mengatakanku gila, karena bila dia meninggalkanku aku benar-benar menjadi gila, aku terus berlari kesana-kemari, tapi tak bertemu, dan kulihat pesawat ke Singapura baru saja berangkat.


“Aku terlambat,” kataku pasrah, lemas terasa tubuh ini, sampai terdengar ada suara yang memanggilku.

“Ridwan…Ridwan,” suara yang merdu itu membangunkan aku, kulihat dua sosok yang berdiri di depanku, yang satu wajahnya bersinar kebahagiaan, dan terlihat capek. Dia seperti Aninda dan Ibunya, beberapa kali aku usap mataku seperti orang bodoh, memastikan kalau aku tidak sedang bermimpi, ternyata memang dia Aninda.

“Tadi aku kerumahmu dan mencarimu, tapi kau tidak ada disana, dan akhirnya kuputuskan menyusulmu ke bandara.”

“Ibuku setuju aku tidak pergi ke Singapura karena aku lebih suka belajar di negeriku ini, aku lebih bahagia bersamamu,” kata Aninda terlihat matanya berkaca-kaca, air matanya mulai mengalir kebahagiaan.

“Aku sayang kamu Rid,” sambil memelukku.

“Aku juga Nin,” kataku lemas.

Aku & Eva

Namaku Ares, aku hanya seorang mahasiswa biasa yang kebetulan saja merupakan personel dari sebuah band local yang sedang naik daun. Tapi aku bukan sosok idola di band ini. Aku hanya seorang pemain bass yang memang jarang sekali mendapat perhatian dari penonton atau penggemar band ku ini.

Kami mendapat order manggung di Oranje Kafe pada malam valentine. Wah, tentu saja kami senang akan hal ini. Berminggu-minggu itu kami mulai berlatih rutin agar penggemar kami tidak kecewa. Aku tahu live performance kami akan sangat dinanti-nantikan. Sayangnya, pada latihan kesekian, maaf aku tidak ingat tepatnya. Tiba-tiba aku mengeluh pusing dan rasa sakit yang hebat di kepalaku. Kata Eva, (pacarku yang manis dan memang selalu mendampingiku latihan) aku roboh dan tak sadarkan diri waktu itu. Rio, vokalis bandku kebingungan dan langsung menelepon ambulance, lalu aku dibawa kerumah sakit terdekat.

Sumpah, aku tidak ingat apa-apa lagi tentang semua itu. Yang aku tahu aku kehilangan posisi di band ku. Padahal acara valentine itu tinggal seminggu lagi. Aku sekarang hanya makhluk lemah yang duduk di atas kursi roda, entah kenapa kakiku tak dapat digerakkan lagi. Eva lah yang dengan setia mengantarkan aku kemana-mana. Suatu hal yang berubah, eva sekarang tambah cerewet. Terutama dalam hal kedisiplinanku makan dan minum obat. Aku sering dipaksa minum obat secara rutin. Padahal aku benci obat. Pernah juga aku hanya berpura-pura saja minum obat yang diberikannya. Obat itu hanya aku tahan di bawah lidah. Tapi aku buang lagi ke asbak. Eva tahu hal itu, dia terus menangis. Tentu saja aku keheranan, karena baru kali ini aku melihat dia menangis seperti ini. Asal kalian tahu, Eva itu biasanya rame, heboh, dan selalu tertawa. Aku saying dia, karena dia lucu dan bisa membuat aku tertawa setiap hari. Dia manja tapi nggak kekanak-kanakan. Tapi kenapa kali ini dia menangis..? Ah, aku tidak tahu. Toh kemudian aku minta maaf dan lantas ku minum obat itu benar-benar.

Teman-teman di band juga semakin menunjukkan perhatiannya yang kadang aku rasa terlalu berlebihan padaku. Yang paling mengherankan, aku bahkan mereka ajak latihan lagi, kali ini mereka suruh aku nyanyi, berduet dengan Rio. Kami menyanyikan lagu Crawling In The Dark – Hoobastank. Padahal dulu mereka sama sekali nggak mau kalau nyayiin lagu ini. Karena band kami beraliran pop manis. Bukan Rock seperti Hoobastank. Ajakanku untuk sekali-kali menyanyikan lagu ini juga mereka tolak dengan alas an itu. Tapi kali ini kenapa mereka tiba-tiba mengajakku memainkan lagu ini..? Hmm, ada apa ya dengan mereka? Ah peduli amat…

Masih di atas kursi roda, aku dan Rio berduet menyanyikan lagu itu di studio. Ha..ha.., ternyata kualitas vocal ku nggak kalah sama Rio. Memang karakternya beda banget. Tapi menurutku, kami berdua bisa jadi duet yang baik sebenarnya. Aku lalu tawarkan padanya, bagaimana kalau kelak aku sudah normal lagi, kita nyanyikan lagu ini bareng-bareng di panggung. Rio hanya tersenyum dan mengangguk. Tapi hei, kenapa dia kemudian menangis juga? Dia lalu memelukku erat sekali. Dan berjanji kalau dia mau memenuhi permintaanku itu. Aku semakin terheran-heran. Eva juga ikut-ikutan menangis. Hei-hei ada apa ini? Kenapa semuanya tiba-tiba begini begini terhadapku? Aku akan baik-baik saja kawan, aku akan baik-baik saja Va. Dokter bilang aku akan segera sembuh kok. Sikap kalian kok seperti menghadapi orang yang mau mati begitu sih?

Dan akhirnya malam valentine itu dating juga. Band ku benar-benar manggung di Oranje, dengan seorang pemain bass baru yang direkrut manajemen band untuk menggantikan aku. Kafe yang sebenarnya tidak terlalu besar itu penuh sesak. Aku juga datang, dengan masih diatas kursi roda dan Eva yang dengan setianya mengantarku. Aku dan Eva duduk dibelakang panggung.

Band ku memulai aksi panggungnya dengan sangat manis. Semuanya seperti tersihir dengan lagu-lagu romantis yang teman-teman ku bawakan. Aku dan Eva juga sesekali bersenandung menirukan lagu-lagu itu. Eva tampak senang sekali malam itu. Hmm, akhirnya kembali juga senyum ceria dan khasnya yang dulu membuat aku jatuh cinta…, aku saying kamu Va.

Usai lagu kesembilan, tiba-tiba ku dengar. Hei intro lagu ini, ini Crawling In The Dark, lagu favoritku. Ku dengar juga Rio mempersilahkanku ke panggung buat berduet dengannya menyanyikan lagu itu. Tepuk tangan penonton membahana, dan dengan Eva yang mendorong kursi rodaku, aku menuju ke panggung. Ha.., aku merasa luar biasa sekali mala mini, aku benar-benar berduet dengan Rio, bermain lagi dengan bandku, menyanyikan lagu yang selama ini ingin aku nyanyikan diatas panggung. Dan mala mini dengan masih diatas kursi roda, aku menyanyikannya bersama teman-teman bandku.

Usai lagu itu, tepuk tangan penonton semakin menggemuruh. Bahkan ku lihat beberapa dari mereka menangis. Mungkin terhanyut dengan penampilan fantastisku dan band ku mala mini. Lho? Tapi ini kan bukan lagu romantis yang biasanya gampang bikin orang terhanyut lalu menangis? Atau mungkin hanya karena terharu saja ya, melihat aku menyanyi diatas kursi roda? Dan setelah berterima kasih pada penonton dan teman-temanku, aku meninggalkan panggung dan masih diikuti tepuk tangan penonton.

Band ku akhirnya mengakhiri live performancenya malam itu dengan Ordinary World milik Duran-Duran. Karakter vokal khas Rio yang sering diledek Eva dengan serak-serak birahi itu berhasil kembali memunculkan hawa romantis di kafe yang sebelumnya dirusak oleh derungan Crawling In The Dark itu. Hmmm, rio memang seorang vokalis hebat, tak heran jika dia jadi personel yang paling diidolakan oleh penggemar bandku.

Band ku kemudian berhigh five dan meninggalkan panggung setelah sebelumnya berterima kasih kepada penonton atas kedatangannya malam itu. Mereka semua kemudian berhambur menghampiri dan memelukku erat sekali. Aku terharu, terima kasih kawan-kawan aku senang sekali malam ini. Kalian semua hebat, aku bangga meskipun sekarang aku bukan lagi bagian dari band ini. Sekali lagi terima kasih juga kalian sudah memenuhi impianku mala mini, menyanyikan Crawling In The Dark di atas panggung. Kawan-kawanku yang baik, aku saying kalian semua…
Aku lalu pulang bersama Eva yang mengantarku dengan mobilnya. Di perjalanan, aku dan Eva tak henti-hentinya seperti orang gila berteriak-teriak mengikuti alunan Crawling In The Dark yang diputar di tape mobil. Satu hal yang baru aku tahu, Eva juga hafal dengan lirik lagu ini. Mulut mungilnya tak henti-hentinya membuka, menutup dan mendengarkan suara yang melengking dan sumbang, tetapi tetap saja lucu kedengarannya. Aku tersenyum, dan tanpa kusadari setitik air bening jatuh dari air mataku. Ya, aku menangis karena bahagia, entah kenapa malam ini aku merasa bahagia sekali punya pacar seperti Eva, orang yang selalu menemani aku dalam tangis atau tawa. Bahkan dalam keadaanku yang sudah seperti ini sekalipun.

Eva mengantarku sampai masuk rumah. Bahkan disertai ciuman manis di keningku. Dan (ini yang nggak aku suka), nasihatnya yang setengah memaksa, agar aku tidak lupa minum obat lagi. “Iya deh Eva ku yang cerewet, aku akan minum obatku kok. Supaya aku segera sembuh, dan bisa main-main dan menghabiskan waktu lagi sama kamu tanpa direpotkan dengan kursi roda dan penyakit sialanku ini”.

Eva akhirnya pulang dengan mobilnya. Aku masuk kamar, meminum obat, dan beristirahat, tapi kenapa ya mataku tak bisa dipejamkan? Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Aku tak bisa tidur, ada perasaan tidak enak yang mengatakan aku harus nelpon Eva mala mini. Kuhubungi ponselnya tidak diangkat. Hei-hei ada apa lagi ini? Tak biasanya Eva seperti ini. Dia selalu menjawab telponku kok. Kucoba sekali lagi meneleponnya, tetap tidak ada jawaban. Perasaanku semakin tidak karuan. Firasatku mengatakan sesuatu yang buruk telah terjadi pada Eva. Aku kemudian mencoba berdiri dari tempat tidur, meraih kursi rodaku. Tapi terasa jauh sekali. Aku merasakan mataku berkunang-kunang. Kepalaku berat, pusing dan sakit kepala hebat itu kembali menyerang. Aku kemudian merasakan tubuhku  semakin lemah, lemah dan kemudian gelap.

**********

Aku tersadar disebuah tempat yang rasanya mirip tempat tidur. Dan aroma obat yang khas. Sepertinya ini kamar rumah sakit, tapi kenapa pandanganku masih gelap? Aku tidak bisa melihat apapun disini. Kepalaku juga masih terasa berat, tapi secara samar-samar kudengar suara yang kukenal baik. Sepertinya dia Mamiku, Rio dan teman-teman bandku yang lain disini. Lho, tapi kenapa tak kudengar suaranya Eva? Biasanya selalu kudengar tawanya yang renyah dan celetukannya yang selalu membuatku tertawa. Dia tidak ada disini, dimana dia? Dengan suara menggumam dan tidak jelas kutanyakan keberadaan Eva kepada Mamiku. Tapi beliau tidak menjawab, hanya kurasakan belaian lembut tangannya, kudengar beliau hanya menangis. Aku semakin bingung.

**********

Pandangan mataku masih terasa gelap, dan aku masih duduk diatas kursi roda. Tapi hari ini Rio mengantarku ke suatu tempat yang katanya adalah makamnya Eva. Tempat peristirahatan terakhir  dari orang yang selama setahun ini menjadi teman hati dan teman jiwaku ini. Orang yang paling aku sayangi. Dan dari cerita Rio pula, akhirnya aku tahu kalau kecelakaan tragis telah memanggil Evaku yang manis untuk selama-lamanya malam itu, malam setelah bandku manggung di Oranje, setelah Eva mengantarku pulang kerumah.

Herannya, aku tidak menangis sedikitpun, meski kuakui hatiku benar-benar hancur dan kesedihan yang teramat sangat membuat dadaku makin sesak. Aku yakin, tak lama lagi aku dan Eva akan bertemu lagi dikehidupan yang lain, meski bukan di dunia ini tentu saja. Tunggu saja aku Va, aku takkan membiarkan kamu kesepian disana, tunggu aku ya!