Kriiiing….kriing, suara bel tanda istirahat mengagetkanku, bunyinya sangat keras sekali karena berada tepat di atas kepalaku, tak lama kemudian Ibu Aksan, guru kimia menyuruhku untuk duduk, bersamaan dengan itu pula semua penghuni kelas III IPA I berhamburan keluar seperti burung lepas dari sangkarnya. Aku baru saja diskors berdiri di depan kelas karena nggak ngerjain tugas dari bu Aksan yang terkenal killer di sekolah ini.
Aku sering seperti ini, hal seperti ini sudah tiga kali dalam minggu ini, entah tidak tahu kenapa aku sekarang bisa berubah seperti ini, aku seperti tidak punya daya untuk menjalani hidup ini, banyak lomba yang aku ikuti jadi wakil sekolah selalu menang, kegiatan OSIS pun aku sering ikut, semua itu berubah setelah Ayahku memutuskan berpisah dengan Ibuku dua minggu yang lalu, aku masih beruntung karena aku tidak terjerumus kedalam lubang hitam narkoba, keputusan ayahku membuat aku seperti tak ingin hidup lagi, aku merasa tidak ada lagi yang memperhatikanku, tidak ada orang lagi yang peduli denganku, maklum karena aku anak tunggal, kasih saying orang tuaku sangat berpengaruh terhadap pertumbuhanku. Aku sudah tak kuasa melanjutkan perjalanan ini. Ah..buat apa lagi aku pikirkan semuanya itu sudah terjadi, lebih baik aku masuki ruang mimpiku yang terasa indah indah ini, aku ingin tidur saja istirahat ini.
**********
Puaak…kaget rasanya, seperti sesuatu telah menghantam kepalaku, agak sakit, aku hanya mengusap-usap kepalaku, mungkin itu pak Hasan yang barusan melempari kepalaku dengan penghapus kapur tulis, ternyata benar pak Hasan, yang sedang memarahiku untuk segera bangun, suara itu sama sekali tidak aku dengarkan, aku hanya melihat seorang gadis di sampingnya, gadis itu cantik, wajahnya oval putih, rambutnya yang panjang sepunggung. Aku belum pernah melihat dia sebelumnya. Ternyata dia murid baru yang bernama Aninda. Dia anak pengusaha sukses di Surabaya dan pindah karena ayahnya mengurusi bisnisnya di kota ini, aku tahu setelah pak Ahsan mengenalkannya di depan kelas, dan rencananya dia akan duduk disebelahku karena kebetulan aku duduk sendirian.
Hari selanjutnya seperti biasa aku harus jalani hidup ini dengan sangat berat, sebenarnya aku nggak pengen berangkat, tapi lebih baik disini daripada melihat mama masih sedih dengan perpisahan itu. Tapi teman yang banyak disini seperti hilang dalam sekejap, tidak ada satupun teman yang berani bicara denganku, karena aku sering marahin mereka, walaupun mereka berniat baik membantuku. Aku tidak tahu mengapa aku sering naik darah, apalagi jika menyangkut orang tuaku.
Hari inipun mungkin aku harus berdiri lagi di depan kelas, atau mengerjakan tugas diluar, karena aku tidak membikin tugas lagi, aku menuju bangkuku, kulihat anak baru itu sedang asyik ngobrol dengan Linda teman belakang bangkuku, kulihat mereka sudah mulai akrab, aku tidak menghiraukan apa yang mereka bicarakan, aku langsung duduk tanpa bicara sepatah katapun.
Baru saja pelajaran kimia di mulai, semua tugas dikumpulkan tapi hanya aku yang tidak mengumpulkan kulihat Aninda juga mengumpulkan, bu Aksan memeriksa semua tugas, dan akupun sudah siap-siap jika disuruh berdiri lagi seperti kemarin, kulihat beberapa kali dia melihatku, dan kemudian kembali mengoreksi, kemudian terdengar suara ibu Aksan kepada kami.
“Anak-anak setelah Ibu periksa, dari sekian siswa yang mengerjakan tugas ini, hanya Ridwan dan Aninda yang benar 100%”. Suara sorak riuh dan tepuk tangan terdengar seketika itu. Aku agak kaget mendengar bahwa soal yang aku kerjakan benar semuanya, padahal aku sama sekali tidak pernah mengerjakan soal itu, bahkan seperti apa soal yang diberikan pun aku tidak pernah tahu. Kemudian Aninda menatapku dan berbicara padaku sambil menepuk pundakku.
“Maaf aku tadi yang bikin soal itu dan mengumpulkannya, tanpa memberitahumu terlebih dahulu, aku sama sekali tidak ingin merendahkanmu, aku tahu banyak tentang kamu, kau orang baik dan semu telah berlalu, kaupun tidak ingin keadaan seperti ini, bangkitlah! Gapai semua cita-citamu, aku tahu kau bisa.” Senyum manis menghiasi wajahnya.
Kata-kata itu seperti sebuah oasis yang sejuk, sejuk sekali, sejak saat itu aku merasa bahwa aku harus berubah, aku harus bisa lebih mandiri dan mampu menghadapi cobaan, karena cobaan adalah konsekwensi dalam hidup, semangatku seakan pulih, aku tahu aku bisa, dan aku ingin kembali seperti dulu lagi, Ridwan yang tak mudah menyerah, Ridwan yang penuh dengan harapan. Setelah saat itu hari-hari banyak yang aku habiskan bersamanya, dari ngerjain PR di bukit, main ke perpustakaan wilayah naik sepeda berboncengan, sampai keliling kota naik pic-up, aku merasa bahagia walaupun single parent. Gadis yang cantik dan menyenangkan, dia juga sangat pandai dalam bidang bahasa.
Dua hari sebelum ujian akhir dimulai, tepatnya hari sabtu malam, Aninda memintaku untuk datang kerumahnya, sesampai disana kulihat dia sudah siap dengan gitar disampingnya. Dia terlihat feminism sekali, dia duduk di teras depan bersama Ibunya, rumahnya memang masih asri namun sepi, maklum dia juga anak tunggal, ayahnya sibuk, hanya dia, Ibunya dan satu orang sopir yang tinggal dirumah sebesar itu.
“Hai..selamat datang,” sapa dia sambil mengambil softdrink di meja.
“Ridwan silahkan duduk, Ibu masuk dulu,” sapa Ibunya ramah, sambil pergi meninggalkan kami, rupanya Ibunya sudah kenal denganku.
“I..ia Bu terima kasih,” balasku agak gugup.
“Kamu bisa main gitar?” dia bertanya, sambil menyodorkan gitar kepadaku.
“Maa..maaf nggak bisa kok,” sambil geleng-geleng balasku.
“Oh…” balas dia sambil manggut-manggut. Diambilnya gitar kemudian jari-jarinya yang lentik mulai memetik senar gitar yang sepertinya sudah terbiasa memainkannya, dari bawah keatas, dari atas kebawah.
“Ting…tung…ting…tung….indah, terasa indah…bila kita terbuai…” suara merdu mulai mengalun dari bibirnya.
“Wau hebat sekali,” kagumku. Lagu itu memang sudah aku hafal, kemudian aku ikut bernyanyi walaupun suaraku agak terdengar fals, kemudian suara kami mengalun bersama redupnya malam yang terbawa angin. Indah….
**********
Ujian telah usai, kamu semua lulus, tapi jumlah rata-rata belum diumumkan. Namun untuk lulusan terbaik akhirnya aku peroleh, kemudian baru dia, rasa bahagiapun seakan semakin membara. Aninda menghampiriku dan mengucapkan selamat.
“Selamat yaa… kamu memang hebat,” sambil meninju dadaku.
“Kamu juga hebat,” kataku, dia tersenyum. Sangat indah seperti saat pertama kali dulu.
Seeeet…seet….suara cat mulai terdengar, kami semua berlari-lari bahagia, ada yang tertawa lepas, ada yang tidak percaya kala dia lulus, ada yang sedih karena harus berpisah dengan teman-teman, semua berbaur menjadi satu, seeet…cat itu mewarnai seragamku yang putih, warnanya sangat cerah secerah hatiku saat ini, mendadak banyak teman yang seperti menjadi popular. Tanda tangan, pesan dan namanya tertulis dibajuku yang mulai habis warna putihnya. Kami semua tertawa riang, ada beberapa yang berlarian, kulihat Aninda menghampiriku, giginya yang putih rapi itu, tersenyum lebar manis sekali. Sesekali berkata aku lulus…, kedua tangannya menggenggam tangan kananku, kemudian dia menarikku, mengajakku ke belakang sekolah yang saat itu agak sepi.
Sesampainya di belakang sekolah dia menatapku, seakan kesunyian menyelimuti dunia dengan sekejap, aku diam diapun diam, kami hanya saling menatap, kemudian kata-kata keluar dari bibirnya.
“Rid kita sudah lama bersama, aku ingin menuliskan sesuatu di bajumu belakang. Agar kau selalu ingat aku nanti walaupun kita jauh.” dia mulai menuliskan kata di baju belakangku, aku tidak tahu apa yang dia maksudkan, tapi dia menuliskannya begitu lama, kemudian dia berkata.
“Aku juga ingin kamu menuliskan sesuatu dibajuku, tentang semua yang tak terucap olehmu hari ini”. Karena aku merasa berhutang budi dengannya, lalu dia berkata.
“Kita sama-sama baca tulisan ini di rumah kita masing-masing dan harus kita sendiri yang membacanya”, ujarnya dengan kepala tertunduk, kemudian dia pergi meninggalkanku, aku masih bingung dengan semua ini. Aku hanya bisa menatap dirinya menghilang.
Aku langsung pulang dengan berjuta rasa penasaran ini. Sesampainya dirumah aku lepas bajuku yang sudah tak layak pakai ini, dan kubaca tulisan darinya, walaupun kurang jelas tapi masih bisa aku baca.
“Maaf Rid, mungkin saat kamu baca tulisan ini, aku sudah ada di bandara, ayahku menginginkan aku kuliah di Singapura, aku masih ingin bersamamu, I will miss u”, membaca tulisan itu jiwaku seakan berontak dan seperti tak ingin membiarkan dia pergi meninggalkanku, aku tidak tahu perasaan apa ini, perasaan ingin bersama, perasaan yang dapat menguasai seluruh akal pikiranku.
Kupacu motorku sangat kencang menuju bandara, aku tak peduli akan keselamatanku sendiri, sambil beberapa kali bertanya, kepada diriku sendiri, perasaan apa ini…? Perasaan apa ini? Apakah aku cinta padanya? Apakah aku cinta kepadanya? Ya aku cinta kepadanya.
**********
Di bandara aku mencarinya, berlari dan beberapa kali aku teriak memanggil namany, aku tidak peduli orang-orang yang melihatku mengatakanku gila, karena bila dia meninggalkanku aku benar-benar menjadi gila, aku terus berlari kesana-kemari, tapi tak bertemu, dan kulihat pesawat ke Singapura baru saja berangkat.
“Aku terlambat,” kataku pasrah, lemas terasa tubuh ini, sampai terdengar ada suara yang memanggilku.
“Ridwan…Ridwan,” suara yang merdu itu membangunkan aku, kulihat dua sosok yang berdiri di depanku, yang satu wajahnya bersinar kebahagiaan, dan terlihat capek. Dia seperti Aninda dan Ibunya, beberapa kali aku usap mataku seperti orang bodoh, memastikan kalau aku tidak sedang bermimpi, ternyata memang dia Aninda.
“Tadi aku kerumahmu dan mencarimu, tapi kau tidak ada disana, dan akhirnya kuputuskan menyusulmu ke bandara.”
“Ibuku setuju aku tidak pergi ke Singapura karena aku lebih suka belajar di negeriku ini, aku lebih bahagia bersamamu,” kata Aninda terlihat matanya berkaca-kaca, air matanya mulai mengalir kebahagiaan.
“Aku sayang kamu Rid,” sambil memelukku.
“Aku juga Nin,” kataku lemas.